Obligasi Indonesia Makin Murah

Imbal hasil atau yield obligasi yang diterbitkan pemerintah Indonesia dipercaya akan semakin murah karena peringkat utangnya semakin naik, antara lain peringkat utang yang dinaikkan oleh Standard & Poors dari BB- menjadi BB+. Penurunan beban penerbitan obligasi menjadi semakin rendah karena Standard & Poors pun menaikkan status perekonomian Indonesia dari stabil menjadi positif.

“Kenaikan peringkat dari Standard & Poors sebenarnya naik dua karena sebelumnya BB- sekarang BB+ dengan positive outlook. Tadinya itu BB minus stable, sekarang langsung positive outlook , sehingga itu membuat satu nocht di bawah investment grade,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bambang PS Brodjonegoro di Jakarta, Senin (11/4/2011).

Menurut Bambang kenaikan peringkat utang itu berpengaruh positif terhadap pengurangan imbal hasil obligasi Indonesia. Itu keuntungan terbesar dari perubahan peringkat utang tersebut. Manfaat lainnya adalah masuknya investasi asing ke Indonesia karena kondisinya semakin mudah. “Yang penting kita harus menunggu investment grade-nya itu sendiri. Itu baru manfaat terbesar yang akan kita rasakan,” katanya.

Seperti diberitakan, lembaga pemeringkat utang Standard & Poor’s Ratings Services telah menaikan peringkat utang Indonesia, terutama utang yang diterbitkan pemerintah dari BB ke BB+ (Kompas, 8/4/2011). Kenaikan peringkat ini berlaku pada utang jangka panjang yang diterbitkan dalam bentuk nilai tukar asing. Itu terjadi setelah Standard & Poor’s menempatkan perekonomian Indonesia dalam outlook (prediksi) positif, sehingga memberikan sinyal pada kenaikan peringkat utang lebih lanjut.

Kenaikan peringkat utang ini merefleksikan perkembangan dalam neraca pemerintah dan likuiditas eksternal. Adapun yang menjadi penghambat kenaikan peringkat utang antara lain adalah pendapatan per kapita yang masih rendah, masih ada hambatan kelembagaan dan struktural dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, dan inflasi yang relatif lebih tinggi. Indonesia juga masih rentan terhadap kejutan eksternal sebab pasar modal domestik masih lemah, meskipun risiko ini sudah mulai berkurang,” tuturnya.

Indonesia dinilai masih mampu membangun stabilisasi neraca pemerintah sebagai sumber kenaikan peringkat utang. Itu konsisten dengan surplus fiskal pada APBN yang dilakukan melalui stabilisasi tingkat utang. Itu menyebabkan risiko gagal bayar utang menjadi lebih rendah. Rasio utang pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2010 mencapai 24 persen.

Adapun hambatan yang dapat menahan kenaikan peringkat utang antara lain pendapatan per kapita yang masih mencapai 3.037 dollar AS. Itu masih berada di bawah nilai tengah yang dibutuhkan untuk mendapatkan peringkat utang BB dari Standard & Poor’s.

 

 

 

*sumber;Kompas.com